INDAHNYA................

INDAHNYA................
KUPU-KUPU

Jumat, 07 September 2012

Prinsip-Prinsip Kurikulum

                                                                               BAB  I
                                                                      PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
         Proses pendidikan dalam kegiatan pembelajaran atau dalam kelas, akan bisa berjalan lancar, kondusif, interaktif, dan lain sebagainya apabila dilandasi oleh dasar kurikulum yang baik dan benar. Pendidikan bisa dijalankan dengan baik ketika kurikulum menjadi penyangga utama dalam proses belajar mengajar. Kurikulum mengandung sekian banyak unsur konstruktif supaya pendidikan berada pada kurikulum. Baik buruknya hasil pendidikan ditentukan oleh kurikulum, apakah mampu membangun kesadaran kritis terhadap peserta didik ataukah tidak.
        Prof.Dr.S. Nasution,M.A. mengatakan bahwa masa depan bangsa terletak pada tangan kreatif generasi muda. Mutu bangsa di kemudian hari bergantung pada pendidikan yang dinikmati anak- anak saat ini, terutama dalam pendidikan formal yang diterima di bangku sekolah.
        Kurikulum menjadi vital bagi perkembangan bangsa. Para guru atau pengajar harus pula memahami seluk- beluk kurikulum hingga batas- batas tertentu dalam skala mikro. Selain itu guru diharapkan mampu mengembangkan kurikulum bagi kelas. Bila ditarik benang merah maka kurikulum dapat dipahami sebagai alat sentral bagi keberhasilan pendidikan . Peran ini menjadi kunci bagaimana pendidikan akan diarahkan. Ini berkaitan erat dengan proses pembelajaran sebagai ruang beraktivitas belajar anak didik supaya mereka mendapat bekal pengetahuan yang baik dan mampu membangun kekuatan kecerdasan baik kognitif, afektif, dan psikomotorik. Diakui atau tidak , kurikulum harus dibangun dengan sedemikian cerdas, mencakup segala kebutuhan anak didik, dan meliputi segenap  alat penggali dan pengembangan potensi sekaligus bakat anak didik sehingga mampu melakukan pertunjukkan diri terhadap bakat dan potensi yang dimiliki.
1.2  Rumusan Masalah
        Dari uraian diatas maka yang menjadi permasalahan adalah “ Bagaimanakah prinsip-prinsip pengembangan kurikulum sehingga kurikulum dapat dijadikan modal pembangunan pendidikan?”

                                                                          BAB II
                                                                   PEMBAHASAN

2.1  Defenisi Kurikulum
         Menurut kamus Webster tahun 1856, kurikulum adalah : 1. a race course ; a place for running; a chariot. 2. a course in general; applied particulary to the course of study in a university. Kurikulum adalah jarak yang ditempuh oleh pelari atau kereta dalam perlombaan. Kurikulum juga bermakna seperti kereta pacu di zaman lampau, yaitu suatu alat yang membawa seseorang  dari garis start sampai finish.
        Menurut kamus Webster tahun 1955, kurikulum adalah 1. a course esp. a specified fixed course of study, as an a school courses, as one leading to degree. 2. the whole body of course offered in an educational institution or department thereof. Kurikulum yang digunakan dalam dunia pendidikan adalah sejumlah mata pelajaran di sekolah atau mata kuliah di perguruan tinggi yang harus ditempuh guna mencapai satu ijazah atau tingkat tertentu.
        Di Indonesia, istilah kurikulum menjadi popular sejak tahun 1950-an yang diperkenalkan oleh sejumlah kalangan pendidik lulusan Amerika Serikat. Sebelumnya kita lebih akrab dengan istilah rencana pembelajaran . Hakekatnya,  kurikulum sama dengan rencana pembelajaran dan yang membedakan hanya cara pandangnya.
        Pengertian kurikulum seperti disebutkan di atas terlalu sempit atau sangat sederhana. Istilah kurikulum pada dasarnya tidak hanya terbatas pada sejumlah mata pelajaran saja, tetapi mencakup semua pengalaman belajar ( learning experiences ) yang dialami siswa dan memengaruhi perkembangan pribadinya. Bahkan  Harold B. Alberty (1965) memandang kurikulum sebagai semua kegiatan yang diberikan kepada siswa di bawah tanggung jawab sekolah, sehingga kurikulum tidak dibatasi pada kegiatan di dalam kelas, tetapi mencakup juga kegiatan- kegiatan yang dilakukan oleh siswa diluar kelas.
        Pendapat senada  dan menguatkan pengertian tersebut dikemukakan oleh Saylor, Alexander, dan Lewis (1974) yang menganggap kurikulum sebagai segala upaya sekolah untuk memengaruhi siswa supaya belajar, baik dalam ruangan kelas, dihalaman sekolah , maupun di luar sekolah.
        Pengertian kurikum senantiasa berkembang terus sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan. Dengan beragamnya pendapat mengenai pengertian kurikulum, diperoleh beberapa dimensi pengertian kurikulum.
        R. Ibrahim (2005) mengelompokkan kurikulum menjadi 3 dimensi, yaitu :
1. Kurikulum sebagai substansi, memandang kurikulum sebagai rencana kegiatan belajar bagi siswa di sekolah atau sebagai perangkat tujuan yang ingin dicapai.
2. Kurikulum sebagai sistem, memandang kurikulum sebagai bagian sistem persekolahan, sistem pendidikan dan bahkan sistem masyarakat. Sistem kurikulum mencakup struktur personalia dan prosedur kerja bagaimana cara menyusun kurikulum, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyempurnakannya.
3. Kurikulum sebagai bidang studi, memandang kurikulum sebagai bidang studi kurikulum.
        Selanjutnya Said Hamid Hasan (1988) mengemukakan bahwa pada saat sekarang  istilah kurikulum memiliki empat dimensi pengertian, dimana satu dimensi dengan dimensi lainnya saling berhubungan. Keempat dimensi kurikulum tersebut, yaitu :
1.   Kurikulum sebagai suatu ide/gagasan.
2. Kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang sebenarnya merupakan perwujudan dari kurikulum sebagai  suatu ide.
3. Kurikulum sebagai suaatu kegiatan yang sering pula disebut dengan istilah kurikulum sebagai suatu realita atau implementasi kurikulum secara teoritis.
4. Kurikulum sebagai suatu hasil yang merupakan konsekuensi dari kurikulum sebagai suatu kegiatan.
         Adapun pandangan atau anggapan yang sampai saat ini masih lazim dipakai dalam dunia pendidikan atau persekolahan , adalah kurikulum merupakan suat rencana tertulis yang disusun guna memperlancar proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan rumusan pengertian kurikulum seperti yang tertera dalam Undang-Undang no. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa “ Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.”

2.2. Membedah Peran Penting Kurikulum
        Prof. Dr. Soedijarto,M.A mengatakan bahwa sekolah  merupakan lembaga sosial yang keberadaannya merupakan bagian dari sistem sosial negara bangsa. Sekolah bertujuan untuk mencetak manusia susila yang cakap,demokratis, bertanggungjawab, beriman, bertaqwa, sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan berkepribadian yang mantap dan mandiri, dan lain sebagainya. Agar tujuan tersebut tercapai maka dibutuhkan kurikulum yang kuat , baik secara infrastruktur maupun superstruktur.
       Kurikulum hanya akan efesien dan efektif menjalankan fungsi pendidikan bila dilaksanakan oleh guru yang memiliki kemampuan profesional. Tanpa adanya kurikulum yang jelas maka tujuan pendidikan yang akan dicapai akan menjadi buyar. Oleh sebab itu , kurikulum merupakan penunjuk arah ke mana pendidikan akan dituntun dan diarahkan atau akan menghasilkan output pendidikan seperti apa. Oleh karenanya , hal mendasar yang kemudian harus  menjadi perhatian dan pertimbangan penting dalam kurikulum adalah identifikasi tujuan pendidikan yang harus dicapai para peserta didik. Dalam proses identifikasi, secara umum akan menggambarkan kompetensi, pengetahuan, dan sikap yang dikuasai oleh lulusan pendidikan  dalam wilayah elajstudi kurikulum yang  kemudian disebut tahap pertama perencanaan kurikulum. Selanjutnya dirancang struktur program pendidikan yang memuat jenis-jenis mata pelajaran, latihan, dan   secaradirancang dan diselesaikan maka akan memasuki tahap mengembangkan kurikulum yang mencakup penyusunan garis besar program belajar mengajar dan pengembangan program pembelajaran.
        Beberapa hal yang penting dijalankan untuk melahirkan kurikulum yang bermutu adalah :
1. menyusun pokok-pokok bahasan bidang studi yang secara potensial dapat dijadikan objek belajar yang relevan untuk mencapai tujuan.
2. memilih pokok bahasan bidang studi yang paling relevan sebagai objek belajar guna mencapai tujuan kurikulum yang telah ditetapkan.
3. menyusun deskripsi setiap pokok bahasan yang telah dipilih sehingga menjadi jelas.
4.mengurutkan pokok-pokok bahasan secara logis dan psikologis agar dapat dipertanggungjawabkan.
        Supaya kurikulum yang dibangun tersebut kemudian bisa menjadi serangkaian pengalaman pembelajaran yang relevan dengan kehidupan peserta didik, masih perlu dikembangkan lebih lanjut mengenai program pembelajaran ini. Aktivitas ini kemudian diserahkan kepada penanggung jawab studi atau pengampu mata pelajaran supaya dilakukan penyesuaian bahan ajar yang dibutuhkan oleh peserta didik.

2.3  Prinsip- Prinsip Pengembangan Kurikulum
        Dalam usaha untuk mengembangkan kurikulum ada beberapa prinsip dasar yang harus kita perhatikan. agar kurikulum yang kita jalankan benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan. Prinsip-prinsip dasar yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip  dasar yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum.
        Dalam hal ini, Nana Syaodih Sukmadinata (1997) mengetengahkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang dibagi ke dalam dua kelompok : (1) prinsip – prinsip umum : relevansi, fleksibilitas, kontinuitas, praktis, dan efektivitas; (2) prinsip-prinsip khusus : prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar, prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
       Herry Hernawan dkk (2002) mengemukakan lima prinsip dasar dalam pengembangan kurikulum, yaitu :

1.      Prinsip relevansi;
      Kurikulum merupakan rel-nya pendidikan untuk membawa siswa dapat hidup sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat serta membekali siswa baik dalam pengetahuan, sikap maupun keterampilan sesuai dengan tuntutan dan harapan masyarakat. Oleh sebab itu pengalaman-pengalaman belajar yang disusun dalam kurikulum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Inilah yang dimaksud prinsip relevansi. Ada dua macam relevansi, yaitu relevansi internal  dan relevansi eksternal. Relevansi internal adalah bahwa setiap kurikulum harus memiliki keserasian antara komponen-komponennya, yaitu serasi antara tujuan yang harus dicapai, isi, materi atau pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa, strategi atau metode yang digunakan serta alat penilaian untuk mencapai tujuan tertentu. Relevansi eksternal adalah kurikulum harus sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat, baik kebutuhan dan tuntutan masyarakat pada masa kini maupun kebutuhan pada masa mendatang.
2.      Prinsip fleksibilitas;
      Dalam pengembangan kurikulum mengusahakan agar yang dihasilkan memiliki sifat luwes, lentur dan fleksibel dalam pelaksanaannya, memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuaian berdasarkan situasi dan kondisi tempat dan waktu yang selalu berkembang, serta kemampuan dan latar belakang peserta didik. Prinsip fleksibilitas memiliki dua sisi:
Fleksibel dalam memilih program pendidikan serta fleksibilitas dalam mengembangkan program pengajaran.
3.      Prinsip kontinuitas;
      yakni adanya kesinambungan antara berbagai tingkat sekolah,dan antara berbagai tingkat bidang studi dalam kurikulum, baik secara vertikal, maupun secara horizontal. Pengalaman-pengalaman belajar yang disediakan kurikulum harus memperhatikan kesinambungan, baik yang di dalam tingkat kelas, antar jenjang pendidikan, maupun antara jenjang pendidikan dengan jenis pekerjaan.
4.     Prinsip efisiensi;
      Prinsip efisiensi berhubungan dengan perbandingan antar tenaga, waktu, dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh kurikulum dikatakan memiliki tingkat efesiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya yang minimal dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal. Betapa pun bagus dan idealnya suatu kurikulum, manakala menuntut peralatan, sarana dan prasarana yang khusus serta mahal harganya, maka kurikulum itu tidak praktis dan sukar untuk dilaksanakan. Kurikulum harus dirancang untuk dapat digunakan dalam segala keterbatasan.  
5.      Prinsip efektivitas;
      Prinsip efektivitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Terdapat dua sisi efektivitas dalam suatu pengembangan kurikulum.pertama, efektivitas berhubungan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas.kedua, efektivitas kegiatan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar.

Adapun Prinsip-prinsip  khusus dalam  pengembangan kurikulum yaitu:
1.      Berkenaan dengan tujuan pendidikan
Perumusan komponen-komponen kurikulum hendaknya mengacu pada tujuan pendidikan.Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau berjangka panjang,menengah,jangka pendek.
2.      Berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan
      Beberapa pertimbangan yang perlu dilakukan untuk menentukan isi pendidikan/kurikulum, yaitu:
      a.Isi bahan pelajaran harus meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan.
      b.Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis.
3.      Berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar
Pemilihan proses belajar-mengajar yang digunakan hendaknya memperhatikan hal-hal apakah metode atau teknik belajar-mengajar yang digunakan cocok untuk mengajar bahan pelajaran.
4.      Berkenaan dengan pemilihan media dan alat pembelajaran.
Proses belajar yang baik perlu didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pembelajaran yang tepat.
5.      Berkenaan dengan evaluasi
Penilaian merupakan bagian intergral pengajaran,perlu diperhatikan prinsip- prinsip evaluasi, yaitu : objektivitas, komprehensif, kooperatif, mendidik, akuntabilitas, dan praktis.
        Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :
1.     Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
2.      Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
3.     Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
4.      Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
5.     Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
6.      Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
7.     Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
        Pemenuhan prinsip-prinsip di atas itulah yang membedakan antara penerapan satu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan kurikulum sebelumnya, yang justru tampaknya sering kali terabaikan. Karena prinsip-prinsip itu boleh dikatakan sebagai ruh atau jiwanya kurikulum. Dalam mensikapi suatu perubahan kurikulum, banyak orang lebih terfokus hanya pada pemenuhan struktur kurikulum sebagai jasad dari kurikulum . Padahal jauh lebih penting adalah perubahan perilaku guna memenuhi prinsip-prinsip khusus yang terkandung dalam pengembangan kurikulum tersebut.
        Ini sesungguhnya menjadi hal mendasar yang harus dikerjakan  perubahan kurikulum menyentuh persoalan dan kebutuhan di lapangan. Jangan sampai menimbulkan persoalan yang menyebabkan matinya proses pendidikan. Siapapun setuju bahwa perkembangan kurikulum sebagai bagian dan reposisi menjadi pertaruhan keberhasilan pendidikan. Pola pengembangan  kurikulum harus memberikan arah-arah kemajuan dan perbaikan. Menjadi hal utama ketika pengembangan kurikulum lebih menujukkan prestasi pendidikan yang membanggakan. Menjadi harapan ideal ketika perkembangan kurikulum mampu mengakomodasi segala kebutuhan pendidikan , baik jangka panjang, menengah, dan panjang. Itulah tujuan utama pengembangan kurikulum.




                                                                       BAB III
                                                                 KESIMPULAN

        Kurikulum adalah sejumlah rencana isi yang merupakan sejumlah tahapan belajar yang didesain untuk siswa dengan petunjuk institusi pendidikan yang isinya berupa proses yang statis ataupun dinamis dan kompetensi yang harus dimiliki.
        Istilah kurikulum menunjuk beberapa dimensi pengertian , dimana setiap dimensi memiliki hubungan satu dengan yang lainnya. Keempat dimensi tersebut adalah : 1. Kurikulum sebagai ide; 2.kurikulum sebagai suatu rencana tertulis yang merupakan perwujudan dari kurikulum sebagai ide ; 3.kurikulum sebagai aktivitas ;4. Kurikulum sebagai hasil yang merupakan konsekuensi sebagai suatu kegiatan.
        Dalam usaha untuk mengembangkan kurikulum, ada beberapa prinsip dasar yang harus kita perhatikan;adapun prinsip-prinsip didalam pengembangan kurikulum menjadi dua kelompok yaitu pertama: prinsip – prinsip umum : a.   relevansi, b.  fleksibilitas, c. kontinuitas, d. praktis, e. efektivitas. Kedua,  prinsip-prinsip khusus :a.  prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan,b.  prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan, c. prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar,d. prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, e.  prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian. Serta adanya prinsip-prinsip dasar pengembangan kurikulum yang terkait dengan kurikulum satuan pendidikan,meliputi : berpusat pada potensi,memperhatikan keragaman karateristik siswa, tanggap terhadap IPTEK, relevan dengan kebutuhan kehidupan,menyeluruh dan berkesinambungan, belajar sepanjang hayat,dan seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar